Bangunan Tua Bandung

Menyelamatkan Bangunan – Bangunan Tua yang Bersejarah di Kota Bandung

Bandung adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki kekayaan bangunan-bangunan tua dengan arsitektur estetis peninggalan Belanda. Dulu memang Bandung di bina oleh pemerintah kolonial Belanda dengan meniru serupa kota-kota di Eropa. Tak heran Bandung dijuluki Paris van Java sebab keindahan kota berupa taman-taman kota yang meneduhkan dan kecantikan bangunan-bangunan berarsitektur cantik di masing-masing sudut kota.

Sayangnya, nasib bangunan-bangunan tersebut kadangkala merana karena seringkali terjadi pengabaian terhadap bangunan-bangunan tua bersejarah seperti permasalahan pembongkaran dan penghancuran. Kasus-kasus seperti tersebut mengingatkan semenjak tahun-tahun sebelumnya tatkala tidak sedikit bangunan tua bersejarah menjadi korban dalam proses pembangunan kota di Bandung.

 

Bangunan Tua Bandung
Bangunan Tua Bandung

 

Menurut https://828bet.net/ kini wajah pribumi Kota Bandung semakin memudar dan kehilangan jati dirinya, sebab gejala pembangunan Bandung ketika ini didominasi oleh bentuk-bentuk perancangan kota yang nyaris serupa sama dengan kota-kota besar pada lazimnya di Indonesia.

Contohnya pembangunan pusat perbelanjaan (trade center, mall, ruko), hotel dan apartemen serta bangunan canggih lainnya, yang ironisnya secara arsitektur tidak memberi karakteristik citra dan kepribadian sebuah kota.

Namun butuh diakui, lenyapnya satu per satu bangunan tua bersejarah di Bandung bukanlah semata-mata lemahnya pengelola kota secara administratif,urusan ini sebab belum optimalnya penegakan dan pengamalan peraturan wilayah tentang perlindungan bangunan cagar budaya.

Masyarakat (sebagai pemilik bangunan tua bersejarah) dan pihak swasta pun mempunyai andil besar terhadap robohnya bangunan tua bersejarah. Hal ini menandakan belum adanya kesepahaman dan kepedulian bareng akan esensi pelestarian bangunan tua bersejarah di Kota Bandung.

Pelestarian

Sekedar menyegarkan ingatan, pelestarian bangunan bersejarah perkotaan dapat diperhatikan dari dua kondisi. Kondisi kesatu ialah lokasi atau bangunan bersejarah.

Kondisi kedua ialah kawasan bersejarah yang tidak sedikit ada sekumpulan bangunan berarsitektur indah. Nilai sejarah ditafsirkan adanya kejadian bersejarah yang mengiringi jejak perjalanan pembangunan kota yang terekam dalam sekian banyak macam gaya arsitektur bangunan di sebuah lokasi.

Dua situasi di atas tidak sedikit ada di Kota Bandung. Untuk situasi kesatu, andaikan ada Gedung Pos Besar, Gedung Pakuan dan sebagainya.

Untuk situasi kedua, misalkan area Braga dan sekitarnya, area Gedung Sate dan sekitarnya. Namun bila diamati lebih teliti, secara perlahan terlah terjadi merosotnya kualitas fisik, faedah dan karakter visual dari sekian banyak bangunan tua bersejarah di Bandung.

Contohnya, area Braga telah semakin memudar sebab tidak tampak lagi kesan sejarah yang melekat di kawasan tersebut sebagai area bisnis eksklusif.

Prinsip pelestarian bangunan tua bersejarah mesti berlandaskan pada upaya merevitalisasi pulang lingkungan fisik, sosial, kebiasaan dan perekonomian masyarakat. Prinsip ini peru dijalankan dengan menjaga nilai sejarah sebuah bangunan atau area yang sudah menjelma sebagai karakter , citra dan kepribadian sebuah kota.

Singkatnya, upaya revitalisasi ini untuk mengejar kembali identitas suatu kota yang penuh dengan sejarah pertumbuhan kota.

Sudah bukan jamannya lagi membumihanguskan bangunan tua bersejarah demidalil ekonomi semata, sedang nilai sejarah sama sekali diabaikan.

Dengan dalih seperti menambah pendapatan pribumi daerah, pembuatan lapangan kegiatan dan sebagainya, maka bangunan tua bersejarah kesudahannya dirobohkan kemudian diganti menjadi bangunan komersil modern. Padahal pelestarian dapat dilakukan dengan mengerjakan perubahan faedah bangunan supaya berlanjutan ciri khas nilai kesejarahan bangunan itu dapat dipertahankan. Bangunan tua bersejarah tersebut mempunyai potensi pariwisata.

Sayangnya, belum ada tahapan sinergis antara pembangunan kota, pelestarian bangunan tua bersejarah dan pengembangan pariwisata perkotaan.

Insentif dan Disinsentif

Karakteristik bangunan tua bersejarah di Bandung dapat diamati dari tiga hal yakni segi faedah bangungan, bangunan konservasi dan kedudukan kepemilikan bangunan. Pengenalan terhadap ciri khas tersebut sangat bermanfaat untuk implementasi revitalisasi bangunan tua dan area bersejarah melewati penerapan skema insentif (perangsangan) dan disinsentif (penghambatan) dalam program perencanaan pembangunan kota.

Bila ditinjau dari sisi fungsi bangunan, ada empat kategori faedah yaitu difungsikan untuk kegiatan bisnis jasa dan perniagaan (toko, restoran, kafe, hiburan), guna hunian, guna gudang, guna kantor dan adapun yang tidak difungsikan sama sekali.

Dari segi bangunan konservasi, ada lima kelompok yang dapat diamati kondisi jasmani keaslian bangunan tua bersejarah yakni fasade,peningkatan lantai, borongan bangunan (lantai, warna dinding, material atap, tangga dan sebagainya), bangunan yang tidak terawat dan berubah jadi bangunan baru.

Jika ditinjau dari sisi kepemilikan, pada lazimnya bangunan tua bersejarah dipunyai oleh pribadi (masyarakat), swasta (perusahaan) dan pemerintah (negara). Para empunya tersebut kadang menyewakan bangunan miliknya tersebut untuk pihak lain. Ketika dipakai oleh pihak lain, maka faedah bangunan pun dapat berubah. Malah bila dibeli pihak lain, tidak hanya fungsinya yang berubah tapi pun kondisi jasmani bangunan dapat berubah.

Ketiga ciri khas tersebut di atas satu sama beda saling berkaitan. Identifikasi terhadap ciri khas tersebut perlu dilaksanakan terhadap borongan bangunan tua bersejarah yang terdapat di Bandung. Hasil identifikasi sangat urgen untuk menyerahkan informasi yang jelas mengenai eksistensi bangunan tua bersejarah dan kegiatan yang terdapat di sekitarnya.

Hasil identifikasi ini juga bermanfaat sebagai cerminan terhadap materi-materi substansi di dalam ketentuan perlindungan bangunan cagar budaya.untuk para pengelola kota, hasil identifikasi ini bermanfaat sebagai dasar untuk perumusan kepandaian revitatlisasi bangunan tua bersejarah dan area berserjarah di dalam perencanaan pembangunan perkotaan.

Implementasi program revitalisasi bangunan tua bersejarah butuh didukung dengan skema insentif dan disinsentif.

Misal, empunya bangunan tua bersejarah katergori pribadi perlu diserahkan insentif supaya pedui dan punya perhatian dalam mengasuh maupun mengatur kembali keaslian format bangunan. Bentuk insentif yang diserahkan misalnya berupa keringanan pembayaran pajak bumi dan bangunan atau adanya pembayaran separuh harga untuk ongkos listrik dan air minum.

Bagi pihak swasta yang berkeinginan mengalihfungsikan bangunan pun butuh diberi insentif guna usahanya. Namun mesti dengan upaya menjaga keaslian format bangunan tua bersejarah dan pun memelihara keberlanjutan format asli tersebut. Bentuk insentifnya andaikan ada keringanan pembayaran pajak atas usaha yang dilaksanakan swasta.

Sedangkan disinsentif layak diserahkan kepada empunya atau penyewa yang berkeinginan merubah keaslian, baik dengan sengaja merombak, merobohkannya atau mengerjakan usaha yang mengancam kehancuran bangunan tua bersejarah. Disinsentif yang dapat dilakukan contohnya dengan tidak diberikannya jaringan listrik, drainase air bersih dan jaringan telepon.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.